Apa memang masing-masing dari kita punya "jatah keberuntungan" yang pada masanya akan habis? Yang orang tau hidupku nyaris sempurna, tapi bagaimana jika ternyata jatah keberuntunganku sudah habis? Sinopsis: Hidup Rinai berjalan mulus dan nyaris sempurna, setidaknya hingga ia mulai merindukan bekerja di kantor seperti yang ia lakukan beberapa tahun lalu. Ia mulai merasa kesialan bertubi-tubi sedang senang menghampiri hidupnya. Puluhan lamaran pekerjaan yang nihil hasil, pernikahan bertahun-tahun tanpa buah hati, suaminya yang mulai sering keluar kota setelah mendapat promosi kenaikan jabatan. Lantas bagaimana jika tiba-tiba 2 kesempatan yang sangat ia tunggu-tunggu datang bersama namun hanya bisa ia pilih salah satu?
Hari ini nampaknya menjadi salah satu hari yang paling ditunggu oleh ribuan siswa SMA di Indonesia, tak terkecuali Dharma. Kalender di kamarnya telah ia lingkari dengan tinta merah. Tulisan "The.D" tertulis besar-besar di sebelah lingkaran, menutupi deretan angka di sekitarnya. Bunda pun tak kalah antusias, sebulan terakhir Beliau nampak lebih rajin ke tempat ibadah. "Do'a baik seorang Ibu untuk anaknya tidak akan tertolak", begitu yakinnya. Dhamar memasuki gerbang sekolah dengan perasaan campur aduk pagi itu. Raut cemas, antusias dan pasrah bergantian menghiasi wajah teman-temannya. Beberapa siswa lingkar matanya sedikit menghitam tanda kurang tidur. "Kamu jadi ambil double degree Dhar" tanya Alex di sela sela mengerjakan tugas Sosiologi. Hari itu Bu Rahmi tidak datang ke sekolah karena harus mengikuti workshop di luar kota. "Sepertinya begitu" jawab Dharma yang masih sibuk menulis. "Bundamu sudah kasih izin? " Dharma terdiam s...
"Bu, menurut Bu Rahmi seberapa penting punya karir yg jelas dalam bekerja? Apa benar kalau guru ngga punya kejelasan jenjang karir" Dharma kembali membuka topik obrolan, kali ini nampak lebih serius. Bu Rahmi menyorokkan mangkuk mie ayam yg sudah kosong ke tepi, kemudian melipat tangan di atas meja. "Menurut kalian, karir itu apa?" Bu Rahmi balik bertanya, mimik mukanya serius. Dharma, Dimas, dan Alex kompak menggelengkan kepala. "Kalau begitu kalian cari tau dulu, kita ketemu lagi disini hari sabtu sepulang sekolah, oke?" Bu Rahmi beranjak menuju kasir tanpa menunggu jawaban Dharma dan teman temannya. "Sudah Ibu bayar. Ibu pamit dulu karena ada perlu di tempat lain. Kalian segera pulang, hati-hati di jalan" ucap Bu Rahmi seraya mencangklong ranselnya yang nampak berat. "Terimakasih banyak Bu" Bu Rahmi hanya memberi isyarat "OK" dengan tangannya. Ia berjalan cepat menuju mobil di seberang jalan yang baru saja terparkir 3 men...
Komentar
Posting Komentar