Matahari sore mulai menyingsing menghadirkan teduh. Langit yang biru dengan sedikit awan menandai musim pancaroba. Es matcha kesukaan Isna hanya diminumnya sedikit. Sudah satu jam ia duduk sendirian, berkali kali membuka dan menutup aplikasi sosial media yang ada di ponselnya. “Ngga ada kabar dari Mas” gumamnya sambil memandangi ponsel gusar, bosan sedari tadi pesan yang dia tunggu tidak kunjung muncul. Sebulan terakhir tiap akhir pekan suaminya tidak pernah di rumah. Ada saja kegiatan di kampus, pelantikan lah, rapat lah, penelitian lah, mendampingi kegiatan mahasiswa lah. “Percuma ditunggu, Mas ngga mungkin chat kalau sedang sibuk” ujar Isna sambil meletakkan ponselnya kesal, kemudian menyalakan laptop untuk menyelesaikan invoice pesanan yang sudah menumpuk sejak kemarin lusa. “Drrrt ddrrrrttt…” ponsel Isna bergetar panjang, tanda ada panggilan masuk. Tulisan *Mas Ariia-ku* tertampil pada layar ponsel. Buru-buru Isna mengangkat panggilan telepon tersebut. “Assalamua...
Apa memang masing-masing dari kita punya "jatah keberuntungan" yang pada masanya akan habis? Yang orang tau hidupku nyaris sempurna, tapi bagaimana jika ternyata jatah keberuntunganku sudah habis? Sinopsis: Hidup Rinai berjalan mulus dan nyaris sempurna, setidaknya hingga ia mulai merindukan bekerja di kantor seperti yang ia lakukan beberapa tahun lalu. Ia mulai merasa kesialan bertubi-tubi sedang senang menghampiri hidupnya. Puluhan lamaran pekerjaan yang nihil hasil, pernikahan bertahun-tahun tanpa buah hati, suaminya yang mulai sering keluar kota setelah mendapat promosi kenaikan jabatan. Lantas bagaimana jika tiba-tiba 2 kesempatan yang sangat ia tunggu-tunggu datang bersama namun hanya bisa ia pilih salah satu?
Hari ini nampaknya menjadi salah satu hari yang paling ditunggu oleh ribuan siswa SMA di Indonesia, tak terkecuali Dharma. Kalender di kamarnya telah ia lingkari dengan tinta merah. Tulisan "The.D" tertulis besar-besar di sebelah lingkaran, menutupi deretan angka di sekitarnya. Bunda pun tak kalah antusias, sebulan terakhir Beliau nampak lebih rajin ke tempat ibadah. "Do'a baik seorang Ibu untuk anaknya tidak akan tertolak", begitu yakinnya. Dhamar memasuki gerbang sekolah dengan perasaan campur aduk pagi itu. Raut cemas, antusias dan pasrah bergantian menghiasi wajah teman-temannya. Beberapa siswa lingkar matanya sedikit menghitam tanda kurang tidur. "Kamu jadi ambil double degree Dhar" tanya Alex di sela sela mengerjakan tugas Sosiologi. Hari itu Bu Rahmi tidak datang ke sekolah karena harus mengikuti workshop di luar kota. "Sepertinya begitu" jawab Dharma yang masih sibuk menulis. "Bundamu sudah kasih izin? " Dharma terdiam s...
Komentar
Posting Komentar