Terus kita gimana?
“Mmmaaaaasssss kaappaaaann ppuuulllaaaaannggg?” kali ini panjang panjang kuketik pesan pada Mas, sengaja, sekedar untuk mencari perhatian. Sebuah pertanyaan yang kukirim nyaris tiap hari dan selalu dijawab “sabar dek.” “Ya tapi sampai kapan hadeeehhh”, gerutuku sendiri sambil menatap layar ponsel yang tak kunjung memunculkan pesan balasan. Hujan bulan Desember membuatku enggan beranjak dari cafe meski semua deadline pekerjaan sudah aku selesaikan. “Mas kemana sih lama amat bales chat doang, ada meeting apa ya, apa lagi antar Okaasan periksa?” aku berbicara dengan diriku sendiri sambil menatap hujan yang masih turun sejak pagi. Ya, semenjak kedatangan kami ke Okinawa beberapa bulan lalu, Mas memutuskan untuk tinggal disana dan merawat Okaasan sampai beliau pulih. Aku pun kembali ke Bandung sendiri dengan perasaan campur aduk. Okaasan tidak membenciku, tapi juga tidak menunjukkan rasa suka terhadapku. Sikapnya memang hangat -setidaknya, untuk ukuran orang Jepang yang jarang b...