Apa memang masing-masing dari kita punya "jatah keberuntungan" yang pada masanya akan habis? Yang orang tau hidupku nyaris sempurna, tapi bagaimana jika ternyata jatah keberuntunganku sudah habis? Sinopsis: Hidup Rinai berjalan mulus dan nyaris sempurna, setidaknya hingga ia mulai merindukan bekerja di kantor seperti yang ia lakukan beberapa tahun lalu. Ia mulai merasa kesialan bertubi-tubi sedang senang menghampiri hidupnya. Puluhan lamaran pekerjaan yang nihil hasil, pernikahan bertahun-tahun tanpa buah hati, suaminya yang mulai sering keluar kota setelah mendapat promosi kenaikan jabatan. Lantas bagaimana jika tiba-tiba 2 kesempatan yang sangat ia tunggu-tunggu datang bersama namun hanya bisa ia pilih salah satu?
Gerimis masih saja turun sejak Tari dan Lista memutuskan berjalan lebih dahulu dari rombongan, menyusul 2 orang tim yg ada di depan. 2 jam berlalu, hingga jalan setapak yang mereka lalui mulai menyempit dan semakin samar. “Kamu yakin jalannya lewat sini?” tanya Lista “Harusnya sih iya, kita ngga ada lihat persimpangan jalan kan tadi? Setapaknya juga ini ini aja” jawab Tari. “Duuhh udah hampir 3 jam loh ini kita jalan, kenapa ngga sampai sampai juga. Tadi Afi bilangnya udah deket kan?” “Ya sabar Lis, mau lari nyusul Tama dan Rizki juga terlalu jauh, kabut udah turun, yg ada malah nyasar nanti” ujar Tari berusaha menenangkan Lista. “Huuuuhh… kenapa pula tadi kita sok sok an jalan dulu yaaa.. Gini deh jadinya” gerutu Lista sambil sesekali menebas ranting yg melintang di depannya. "Apa mau nunggu rombongan yg di belakang?" tawar Tari Lista hanya diam dan terus berjalan. Tari hanya tersenyum maklum, sahabatnya memang begitu, selalu mengeluh tapi ngga pernah nyerah. Pokok prinsip h...
Komentar
Posting Komentar