Matahari sore mulai menyingsing menghadirkan teduh. Langit yang biru dengan sedikit awan menandai musim pancaroba. Es matcha kesukaan Isna hanya diminumnya sedikit. Sudah satu jam ia duduk sendirian, berkali kali membuka dan menutup aplikasi sosial media yang ada di ponselnya. “Ngga ada kabar dari Mas” gumamnya sambil memandangi ponsel gusar, bosan sedari tadi pesan yang dia tunggu tidak kunjung muncul. Sebulan terakhir tiap akhir pekan suaminya tidak pernah di rumah. Ada saja kegiatan di kampus, pelantikan lah, rapat lah, penelitian lah, mendampingi kegiatan mahasiswa lah. “Percuma ditunggu, Mas ngga mungkin chat kalau sedang sibuk” ujar Isna sambil meletakkan ponselnya kesal, kemudian menyalakan laptop untuk menyelesaikan invoice pesanan yang sudah menumpuk sejak kemarin lusa. “Drrrt ddrrrrttt…” ponsel Isna bergetar panjang, tanda ada panggilan masuk. Tulisan *Mas Ariia-ku* tertampil pada layar ponsel. Buru-buru Isna mengangkat panggilan telepon tersebut. “Assalamua...
"Bu, menurut Bu Rahmi seberapa penting punya karir yg jelas dalam bekerja? Apa benar kalau guru ngga punya kejelasan jenjang karir" Dharma kembali membuka topik obrolan, kali ini nampak lebih serius. Bu Rahmi menyorokkan mangkuk mie ayam yg sudah kosong ke tepi, kemudian melipat tangan di atas meja. "Menurut kalian, karir itu apa?" Bu Rahmi balik bertanya, mimik mukanya serius. Dharma, Dimas, dan Alex kompak menggelengkan kepala. "Kalau begitu kalian cari tau dulu, kita ketemu lagi disini hari sabtu sepulang sekolah, oke?" Bu Rahmi beranjak menuju kasir tanpa menunggu jawaban Dharma dan teman temannya. "Sudah Ibu bayar. Ibu pamit dulu karena ada perlu di tempat lain. Kalian segera pulang, hati-hati di jalan" ucap Bu Rahmi seraya mencangklong ranselnya yang nampak berat. "Terimakasih banyak Bu" Bu Rahmi hanya memberi isyarat "OK" dengan tangannya. Ia berjalan cepat menuju mobil di seberang jalan yang baru saja terparkir 3 men...
Apa memang masing-masing dari kita punya "jatah keberuntungan" yang pada masanya akan habis? Yang orang tau hidupku nyaris sempurna, tapi bagaimana jika ternyata jatah keberuntunganku sudah habis? Sinopsis: Hidup Rinai berjalan mulus dan nyaris sempurna, setidaknya hingga ia mulai merindukan bekerja di kantor seperti yang ia lakukan beberapa tahun lalu. Ia mulai merasa kesialan bertubi-tubi sedang senang menghampiri hidupnya. Puluhan lamaran pekerjaan yang nihil hasil, pernikahan bertahun-tahun tanpa buah hati, suaminya yang mulai sering keluar kota setelah mendapat promosi kenaikan jabatan. Lantas bagaimana jika tiba-tiba 2 kesempatan yang sangat ia tunggu-tunggu datang bersama namun hanya bisa ia pilih salah satu?
Komentar
Posting Komentar